Semua tentang Opini Saya

Jawa Pos Digital, Siapa mau bayar?

Posted on: 13 Desember 2010

Sudah menjadi kebiasaan saya bahwa setiap pagi membuka beberapa situs berita online seperti detik.com, vivanews.com, kompas.com. Untuk berita lokal, biasanya saya buka jawapos.co.id atau radarmojokerto.co.id.
Untuk yang disebutkan terakhir, masih satu kelompok dengan jawapos dan saat ini sudah tidak aktif lagi, sehinggi cuma jawa pos yang jadi bacaan untuk berita lokal.
Beberapa waktu yang lalu jawa pos meluncurkan edisi digital yang berbayar, dalam benak saya ini adalah edisi update dari edisi onlinenya yang memang beritanya kurang update. Edisi digital ini mengharuskan pembayaran tertentu agar bisa membacanya. Saya sendiri sempat mencoba edisi digital ini melalui trial yang ditawarkan. Nampaknya edisi digital ini adalah koran jawa pos persis seperti edisi cetaknya.
Hanya saja yang membuat kaget adalah ternyata saat ini edisi online-nya sudah ditutup dan diganti full dengan edisi digital. Itu artinya saya sama sekali tidak lagi bisa membaca berita lokal dari jawa pos online, jika ingin baca saya harus bayar.

Bayar? kenapa harus bayar? Saya pribadi perlu berpikir 1000 kali untuk mau membayar. Apa pasal?

Nampaknya jawa pos dan pemiliknya Dahlan Iskan, berpikir seperti Rupert Murdoch si raja media asal Inggris yang memaksa orang untuk membayar setiap ingin membaca beritanya. Saya urang tahu apakah langkah Rupert Murdoch di negaranya David Beckham tersebut sukses atau tidak. Tapi saya berpikir, jika cara tersebut dilakukan di Indonesia, dipastikan, 200% (bukan 100% lagi) akan gagal total. Sebuah usaha sia – sia.

Nampaknya Jawa Pos tidak berkaca kepada usahanya yang terlebih dahulu gagal dalam bisnis online, yaitu lowongan kerja ( loker.jawapos.co.id ). Untuk memasang iklan lowongan kerja di situs tersebut, minimal biayanya 250.000. Apa yang terjadi? Nyaris tidak ada pemasang iklan lowongan yang masuk. Saya lihat hanya ada 1 – 2 lowongan saja yang nampang. Tidak sebanding dengan nama besar Jawa Pos yang mengklaim sebagai koran nomor satu di Indonesia.

Kembali kepada koran online berbayar. Trend yang berkembang di dunia online yang dipelopori oleh Google adalah bahwa segala sesuatu di dunia online adalah mutlak harus diberikan gratis. Banyak aplikasi dan jasa yang relatif penting diberikan secara gratis oleh google, pendapatannya hanya dari kue iklan yang nampaknya semakin lama semakin besar.

Bahkan detik.com sebagai pelopor “berita online” di Indonesia sejak lama menggratiskan kontennya, dan terbukti sukses. Hal tersebut mengilhami koran – koran offline untuk ikut masuk dunia online, semuanya memberikan gratis. Pendapatan sebagian besar dari iklan.

Tetapi jawapos.co.id berusaha melawan arus. Jika yang lain memberikan gratis, Jawa Pos meminta bayaran. Siapa yang menang? Pasti yang gratis. Dan itu sudah dirasakan oleh Jawa Pos Sendiri ketika meluncurkan situs lowongan kerja, Tidak laku.

Kita harus membayar 2 kali untuk Jawa Pos Edisi digital ini, pertama koneksi internet ( yang dirasakan masih mahal ) dan biaya langganan untuk membaca koran digatal ini. Siapa mau bayar 2 kali? Tidak cukup bijak untuk membuat kebijakan ini. Nampaknya blunder ini hanya menunggu waktu untuk jatuh. Perkiraan saya, maksimal koran digital berbayar ini akan berusia 1 tahun, sesudah itu akan mati dengan sendirinya.

Jawa Pos boleh mengklaim dirinya sebagai koran nomor satu, tetapi di dunia online dia bukanlah apa – apa. Secara offline dia boleh mengklaim sebagai koran terbesar, baik jaringan maupun omset. Tetapi di dunia online, nampaknya masih harus belajar lebih banyak dari detik.com, kompas.com dan lain – lain.

Tetapi bukan tidak mungkin, “salah langkah” Jawa Pos ini akan cepat disadari. Dengan kekuatan modal dari dunia offline, tidak sulit mewujudkan Jawa Pos Online dan Edisi digital yang gratis, tetapi tetap menghasilkan dan menjadi sumber pendapatan lain selain dunia offline.

Jawa Pos hanya tidak boleh “angkuh”, mentang – mentang sudah besar di dunia offline, kemudian bisa “mentang – mentang” di dunia online. Karakteristik dunia online yang jauh berbeda dan jauh lebih kritis dari dunia offline mestinya disadari oleh jawa pos.

Tidak boleh angkuh di dunia online, karena setiap keangkuhan akan langsung ditendang dari dunia online. Berlaku juga untuk Jawa Pos.

10 Tanggapan to "Jawa Pos Digital, Siapa mau bayar?"

Dari dahulu memang juga sudah saya prediksi sebelumnya jika portal jawapos nantinya bakal tidak gratis. pertama, ditilik dari tampilan PDFnya yang asal2an dan Terkadang..(meski bandwidth waktu itu udah 512KBps). kedua, baru bisa update setelah jam 10 tiap harinya..(nunggu yang versi kertas laku kale..)
Patut disayangkan memang jika musti bayar..
saya sendiri memang tidak berlangganan, cuma “beli putus” aja 3-4 kali seminggu..
Cuma ngasih saran aja buat jawapos, buka lagi dong portal web gratisnya,kasian yang di pelosok2 daerah,butuh informasi “akurat” namun musti bayar lagi..internet masuk desa masih haus akan berita.
Buat kliping musti balik ke jaman “pelita batu”.. yah,,itung2 ramah lingkungan hemat bahan kertas..(yg kerja usaha pabrik kertas jgn ikut sewot lhoh..)
Saya bisa mengerti jika memang pengin cari untung dari jualan “koran kertas & file..” mungkin bisa dipertimbangkan, apabila ingin gratis akses portal maka beli juga koran kertasnya, nah disitu bisa dicantumkan password atau key untuk akses hari itu juga.. jadi kami-kami ini dan juga yang lain yang masih setia tidak bakal kehilangan momen berita jawapos..
semoga saran ini juga di baca oleh Kang Azrul.. Amin..

iya, jadi susah kalo mau nyari berita-berita kemaren… masa saya harus bayar cuma buat nyari satu berita saja?

diprediksi, 2012 udah ko’it versi onlinenya…

Wah, kayaknya perlu dipertimbangkan, Jawa Pos online yg berbayar, mestinya bikin free…..dan mencari tambahan dari menyewakan space di webnya..atau metode lain…kayaknya kemunduran deh kalau gini

regards
Komang
www,okeGPS.com

wkkk….sejak dulu
maunya usaha menggurita…

dari memorandum
sampe liberty
semua dilibas abiiissss

kurang puas??
bikin OL newspaper
harus bayar

dasar!!

Saya luruskan. Portal Jawa Pos masih ada dan GRATIS, silakan akses di jpnn.com. Portal itu gunanya untuk menambah aktualisasi berita, seperti halnya portal detik.com, okezone.com, kompas.com, dsb.
Sedangkan e-paper adalah bentuk digital dari surat kabar. Jadi isinya sama dengan yang dicetak, tapi bentuknya saja yang berbeda, yaitu berbentuk digital. E-paper wajar kalau harus membayar, e-paper Kompas aja bayar. E-paper disediakan untuk kalangan menengah ke atas yang mungkin tidak sempat kalau harus beli koran di kios-kios, dan merasa lebih nyaman membaca koran via digital.

mestinya kalo berubah, kan ada link untuk content lain yang sama atau yang sudah pindah.
jawapos ini semula gratis kemudian bayar, kemunduran namanya.
Atau solusi lain adalah bikin subdomain, atau domain baru khusus untuk yg berbayar, seperti yang dilakukan kompas, bukan di portal utamanya.

kesimpulan pribadi saya atas koran online yang berbayar ala jawapos ini:
– keputusan tanpa rapat
– keputusan dengan rapat, tapi ngantuk
– keputus asaan karena tiras terus turun
who knows?

mana ada orang mau baca berita online harus bayar, iya to? lagian beritanya juga sama dikoran lainnya, kompas juga ada berita jawatimur, bahkan metrotvnews juga tampilkan berita jawa timur, vivanews juga lengkap, jadi buat apa susah2 buka2 yg sulit dibuka. lagian berita lokalnya kurang berbobot. detik.com kan juga ada berita seputar jawatimur, lebih cepat lagi updatenya

Sebenarnya sah-sah saja kalau Jawa Pos mau menarik bayaran untuk versi digital. Tapi harganya kemahalan. Jawa Pos bisa belajar dari Amazon Kindle. Di sana harga versi digital sekitar 65% lebih murah ketimbang versi cetak. Soalnya biaya produksi untuk versi digital sangat murah. Tidak pakai kertas, tidak pakai koran dan tanpa jasa loper.

Kalau Jawa Pos ngotot dengan harga segitu, mereka tidak akan sukses. Bandingkan dengan Tempo yang versi digitalnya bisa dibeli melalui iPad.

setuju sama bigbro… bayar ok lah, tapi jangan semahal digital edition. 25rb ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pusat Perhatian

Kaos dan kerajinan Flanel, Lucu, menarik dan cocok untuk buah hati anda, atau bagi anda yang membutuhkan suvenir untuk acara-acara anda. Klik di sini : flanelcrafts


jual hidrogel media tanam pulsa termurah di Indonesia

Bidvertisers

uang mengalir     uang mengalir

Blog Stats

  • 28,422 hits

Top Clicks

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: