Posted by: opinisaya on: 24 Januari 2011
Banyak konsep masa depan sepak bola Indonesia diusung oleh Liga Primer Indonesia (LPI). Dengan konsep ini tidak salah jika banyak dukungan yang mengalir untuk LPI. Termasuk dukungan dari pemerintah melalui Menpora.
PSSI sebagai pihak yang menolak LPI, berupaya dengan segala cara, bahkan cara jahat pun dilakukan, agar LPI gagal bergulir. Tetapi sampai sejauh ini upaya PSSI ini selalu gagal karena ternyata jauh lebih banyak yang mendukung LPI dari pada yang menolak.
Tetapi ternyata, walaupun benci dengan LPI, PSSI ternyata meniru konsep LPI. Banyak konsep LPI ternyata kemudian diadopsi oleh PSSI. Sebuah langkah yang tidak tahu malu. Benci tapi meniru.
Sepakbola tanpa APBD
Walaupun sudah lama didengungkan, nyatanya PSSI tidak pernah punya niat untuk melepaskan penggunaan APBD untuk sepakbola. PSSI sangat menikmati fasilitas ini, karena ini adalah dana instan, PSSI tidak peduli dengan kondisi klub yang sangat bergantung dengan APBD ini.
Bergulirnya LPI memaksa PSSI untuk dengan terpaksa mau berpikir penggunaan dana tanpa APBD, bahkan melalui kongresnya di Bali, PSSI mencanangkan tahun 2014 sebagai tahun bebas APBD.
Pertanyaannya adalah mengapa 2014? ISL yang didengung – dengungkan sebagai liga profesional sudah dijalankan sejak 10 tahun yang lalu. Lalu selama 10 tahun ini apa yang dilakukan PSSI? Sebuah keterpaksaan yang dilakukan PSSI untuk menyelamatkan muka walaupun sebenarnya PSSI sudah tidak punya muka.
Nampaknya tahun 2014 hanyalah jargon kosong, mendagri mulai tahun 2012 sudah akan melarang penggunaan APBD untuk sepakbola, tim – tim ISL maupun divisi utama tidak akan mampu bertahan tanpa APBD, tidak perlu menunggu 2014, 2012 saja nyaris semua tim ISL dan divisi utama akan bubar.
Agar tidak bubar, tim – tim ISL dan divisi utama bisa bergabung dengan LPI. Awal 2011 ini ada cukup banyak tim yang mengancam untuk pindah ke LPI. Persib, Deltras, Persela adalah contoh 3 klub yang berencana hengkang ke LPI tahun 2012.
Pembagian Saham ke Klub
Konsep LPI yang sangat menarik klub adalah pembagian saham. Yang mana klub memiliki sebagian besar saham. Dengan pembagian saham ini, dipastikan klub akan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit. Belum lagi pendapatan dari hak siar, sponsorship dan lain – lain.
PSSI nampaknya akan meniru konsep ini, tetapi dengan setengah hati. Kata ketua umumnya yang seorang koruptor, saham 99% akan diberikan kepada klub. Tetapi walaupun PSSI hanya punya 1% saham, tetapi ssaham ini adalah golden share, semua keputusan tetap milik PSSI. Pembagian saham macam apa ini? Sebuah akal-akalan PSSI agar klub senang, padahal nyatanya tidak ada sharing apapun. Klub – klub dibodohi oleh PSSI.
Pembenahan Wasit
Sebuah lagu lama, bahwa banyak klub merasa sering dikerjai wasit. Rumor wasit bisa dibeli bkanlah sesuatu yang aneh di liga PSSI. Bahkan tim yang akan menjadi juara dan terdegradasi sudah disetting dari awal kompetisi. Paling tidak ini yang diakui oleh Tim Perseta Tulungagung.
Pelatih Bontang FC, Fachri Hsaini dan manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar mengakui bahwa wasit LPI jauh lebh baik.
Apakah mampu PSSI membenahi kondisi perwasitan ini? Sangat diragukan. Karena internal PSSI sendiri cukup banyak masalah. Termasuk ketua umumnya yang sarat masalah. Tidak ada sapu yang kotor bisa membersihkan lantai kotor.
PSSI memang harus direvolusi. Kongres PSSI di Bali dan dilanjutkan di Pulau Bintan, tidak bisa memberikan harapan terhadap perbaikan sepakbola Indonesia.
Mengutip Mr. Pecut Jawa Pos hari Minggu 23 Januari 2011, Kongres PSSI di Bali bukanlah kongres, tetapi arisan badut. Badut – badut PSSI dan boneka Nurdin Halid.
Posted by: opinisaya on: 21 Januari 2011
Dengan bergulirnya Liga Primer Indonesia (LPI) dan saat ini sudah memasuki minggu ketiga, membuat PSSI semakin kebakaran jenggot. Banyak upaya yang menurut saya “berlebihan” dilakukan PSSI agar bisa menjegal hadirnya LPI.
Upaya terakhir PSSI menjegal LPI yang dinilai tidak masuk akal adalah upayanya penjegal younghusband bersaudara agar tidak bermain di LPI. Walaupun upaya tersebut akhirnya gagal, toh upaya PSSI tersebut menunjukkan jiwa kekanak-kanakan PSSI menghapdapi LPI.
Apalagi dengan “gerilya” pemerintah yang memotong aliran dana APBD untuk klub – klub ISL membuat PSSI kelimpungan. Akan banayk klub anggota PSSI yang dipastikan akan bubar atau malah bergabung dengan LPI jika kebijakan ini diterapkan.
PSSI semakin tersudut, tetapi sampai sejauh ini para pengurusnya yang dimotori oleh si mantan napi, Nurdin Halid masih sangat pongah, masih sangat sombong, bahwa apa yang dilakukannya adalah demi menegakkan peraturan. Mereka bicara menegakkan peraturan, tetapi di sisi lain, mereka juga melanggar peraturan, yang terlihat sangat mencolok adalah posisi Nurdin Halid yang jelas – jelas narapidana, masih saja bercokol di PSSI, padahal itu adalah pelanggaran terhadap aturan FIFA.
Jadi tidak ada relevansinya sama sekali di sini membicarakan peraturan. Semua sudah melanggar peraturan. Jika ingin menegakkan peraturan, maka si penegak peraturan tersebut harus terlebih dahulu mematuhi peraturan. Itu tidak dimiliki PSSI, sehingga tidak ada peraturan yang bisa ditegakkan PSSI selama PSSI masih melanggar peraturan.
Kongres PSSI di Bali menjadi momentum untuk membuat peraturan kembali tegak, tetapi itu dengan syarat bahwa pengurus yang ada saat ini harus diganti semua. itu adalah syarat mutlak. Jika tidak, jangan harap PSSI masih bisa dipercaya. Tetapi nampaknya perbaikan PSSI masih sulit dilakukan, karena kabarnya Nurdin Halid si koruptor masih saja mencalonkan diri, padahal hujatan dan cacian sudah terdengan seantero Indonesia.
Tidak ada yang bisa diharapkan dari PSSI. Untuk itu LPI sebagai alternatif kompetisi sepakbola di Indonesia layak didukung sebagai upaya “kudeta tidak berdarah” terhadap PSSI. Apalagi LPI didukung oleh pemerintah. semoga perkembangan LPI akan jauh lebih baik dari ISL. Karena tanpa APBD, ISL dipastikan akan gulung tikar.
Posted by: opinisaya on: 13 Desember 2010
Sudah menjadi kebiasaan saya bahwa setiap pagi membuka beberapa situs berita online seperti detik.com, vivanews.com, kompas.com. Untuk berita lokal, biasanya saya buka jawapos.co.id atau radarmojokerto.co.id.
Untuk yang disebutkan terakhir, masih satu kelompok dengan jawapos dan saat ini sudah tidak aktif lagi, sehinggi cuma jawa pos yang jadi bacaan untuk berita lokal.
Beberapa waktu yang lalu jawa pos meluncurkan edisi digital yang berbayar, dalam benak saya ini adalah edisi update dari edisi onlinenya yang memang beritanya kurang update. Edisi digital ini mengharuskan pembayaran tertentu agar bisa membacanya. Saya sendiri sempat mencoba edisi digital ini melalui trial yang ditawarkan. Nampaknya edisi digital ini adalah koran jawa pos persis seperti edisi cetaknya.
Hanya saja yang membuat kaget adalah ternyata saat ini edisi online-nya sudah ditutup dan diganti full dengan edisi digital. Itu artinya saya sama sekali tidak lagi bisa membaca berita lokal dari jawa pos online, jika ingin baca saya harus bayar.
Bayar? kenapa harus bayar? Saya pribadi perlu berpikir 1000 kali untuk mau membayar. Apa pasal?
Nampaknya jawa pos dan pemiliknya Dahlan Iskan, berpikir seperti Rupert Murdoch si raja media asal Inggris yang memaksa orang untuk membayar setiap ingin membaca beritanya. Saya urang tahu apakah langkah Rupert Murdoch di negaranya David Beckham tersebut sukses atau tidak. Tapi saya berpikir, jika cara tersebut dilakukan di Indonesia, dipastikan, 200% (bukan 100% lagi) akan gagal total. Sebuah usaha sia – sia.
Nampaknya Jawa Pos tidak berkaca kepada usahanya yang terlebih dahulu gagal dalam bisnis online, yaitu lowongan kerja ( loker.jawapos.co.id ). Untuk memasang iklan lowongan kerja di situs tersebut, minimal biayanya 250.000. Apa yang terjadi? Nyaris tidak ada pemasang iklan lowongan yang masuk. Saya lihat hanya ada 1 – 2 lowongan saja yang nampang. Tidak sebanding dengan nama besar Jawa Pos yang mengklaim sebagai koran nomor satu di Indonesia.
Kembali kepada koran online berbayar. Trend yang berkembang di dunia online yang dipelopori oleh Google adalah bahwa segala sesuatu di dunia online adalah mutlak harus diberikan gratis. Banyak aplikasi dan jasa yang relatif penting diberikan secara gratis oleh google, pendapatannya hanya dari kue iklan yang nampaknya semakin lama semakin besar.
Bahkan detik.com sebagai pelopor “berita online” di Indonesia sejak lama menggratiskan kontennya, dan terbukti sukses. Hal tersebut mengilhami koran – koran offline untuk ikut masuk dunia online, semuanya memberikan gratis. Pendapatan sebagian besar dari iklan.
Tetapi jawapos.co.id berusaha melawan arus. Jika yang lain memberikan gratis, Jawa Pos meminta bayaran. Siapa yang menang? Pasti yang gratis. Dan itu sudah dirasakan oleh Jawa Pos Sendiri ketika meluncurkan situs lowongan kerja, Tidak laku.
Kita harus membayar 2 kali untuk Jawa Pos Edisi digital ini, pertama koneksi internet ( yang dirasakan masih mahal ) dan biaya langganan untuk membaca koran digatal ini. Siapa mau bayar 2 kali? Tidak cukup bijak untuk membuat kebijakan ini. Nampaknya blunder ini hanya menunggu waktu untuk jatuh. Perkiraan saya, maksimal koran digital berbayar ini akan berusia 1 tahun, sesudah itu akan mati dengan sendirinya.
Jawa Pos boleh mengklaim dirinya sebagai koran nomor satu, tetapi di dunia online dia bukanlah apa – apa. Secara offline dia boleh mengklaim sebagai koran terbesar, baik jaringan maupun omset. Tetapi di dunia online, nampaknya masih harus belajar lebih banyak dari detik.com, kompas.com dan lain – lain.
Tetapi bukan tidak mungkin, “salah langkah” Jawa Pos ini akan cepat disadari. Dengan kekuatan modal dari dunia offline, tidak sulit mewujudkan Jawa Pos Online dan Edisi digital yang gratis, tetapi tetap menghasilkan dan menjadi sumber pendapatan lain selain dunia offline.
Jawa Pos hanya tidak boleh “angkuh”, mentang – mentang sudah besar di dunia offline, kemudian bisa “mentang – mentang” di dunia online. Karakteristik dunia online yang jauh berbeda dan jauh lebih kritis dari dunia offline mestinya disadari oleh jawa pos.
Tidak boleh angkuh di dunia online, karena setiap keangkuhan akan langsung ditendang dari dunia online. Berlaku juga untuk Jawa Pos.
Posted by: opinisaya on: 6 Desember 2010
Membaca posting di rukyatulhilal.org. Menarik sekali. Berikut sedikit saya copy paste :
Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalat fardu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi antara lain; Departemen Agama, PP Muhammadiyah, PP Persis, PP Nahdatul Ulama (NU) dsb. Namun kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu “Pergerakan Matahari ” dilihat dari bumi.
“Sesungguhnya solat itu diwajibkan atas orang-orang yang beriman menurut waktu-waktu yang tertentu” ( Q.S. An-Nisa’ :103 )
“Dirikanlah solat ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”.
( Q.S. Al-Isra’ : 78 )
Sebelum manusia menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, pada zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung matahari. Lalu berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari serta Jam Istiwa atau sering disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari.
Lebih lengkapnya di sini
Dari uraian yang panjang di atas, nampaknya penentuan waktu – waktu sholat pada jaman nabi dan sahabat karena belum ada teknologi yang memadai selalu menggunakan ru’yah terhadap matahari sebagai acuan.
Tetapi nampaknya saat ini ru’yatus Syam (melihat matahari) sudah ditinggalkan dalam penentuan waktu – waktu sholat, karena teknologi sudah mampu menghitung waktu – waktu sholat tersebut secara akurat. Sehingga seperti diuraikan di atas, banyak lembaga yang mengeluarkan jadwal dalam satu tahun penuh. Bahkan penulis sering melihat di masjid – masid atau surau – surau yang memajang “Jadwal Waktu Sholat Sepanjang Masa” tanpa melihat tahun bersangkutan. Itulah kelebihan teknologi yang mampu memudahkan manusia dalam kehidupan sehari – harinya.
Analog dengan di atas, nampaknya cara penentuan tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal masih jauh dari yang diuraikan di atas. Semua orang Islam, khususnya di Indonesia mantap menggunakan dasar perhitungan astronomis sebagai acuan dalam menentukan waktu – waktu sholat 5 kali sehari. Bahkan ada jadwal sholat sepanjang masa. Sebuah kemajuan hebat yang terjadi dalam hal teknologi untuk membantu kegiatan ibadah.
Tetapi ketika menjelang Ramadhan atau akhir Ramadhan, kita selalu deg – degan, bersamaan tidak ya waktu puasa dan idul fitri kita? jangan – jangan tidak sama. Tidak enak lah kalau tidak sama.
Setiap tahun terjadi demikian. Hal ini terjadi karena terjadinya perbedaan dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Banyak yang masih bersikukuh, bahwa harus menggunakan mata telanjang untuk “melihat” bulan awal dan akhir Ramadhan, sementara penggunaan mata telanjang banyak sekali kelemahannya. Mereka berpatokan pada hadits yang mengharuskan “melihat” hanya dengan mata telanjang, tidak boleh dengan yang lain.
Tetapi dalil keharusan melihat dengan mata telanjang ini terbantahkan dengan sendirinya ketika kita menentukan waktu sholat, lihat Surat Al Isra’ : 78 di atas. “Dirikanlah Sholat ketika gelincir matahari” adalah kewajiban bagi kita untuk melihat matahari apakah sudah tergelincir apa belum ketika akan menjalankan ibadah sholat. tetapi apa yang terjadi? Saat ini, nyaris tidak ada orang Islam yang melihat matahari tergelincir ketika akan menjalankan sholat. Semua berpatokan pada jadwal waktu sholat yang sudah ditentukan jauh hari sebelumnya. Semua orang Islam percaya bahwa cara hisab atau cara perhitungan astronomis adalah cara terbaik untuk “melihat” matahari, bukan dengan cara melihat langsung ke matahari.
Lalu mengapa mereka yang bertahan dengan metode “ru’yah” tetap kukuh bahwa untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan harus dengan ru’yah bil fi’li? Sementara untuk menentukan waktu sholat menggunakan hisab hakiki? Sebuah paradoks yang aneh …
Mudah – mudahan tulisan kecil ini bisa menjadi sedikit “pembuka mata” bahwa kita tidak berdebat tentang akurasi hilal sehingga diragukan oleh kalangan yang memegang teguh metode ru’yah. Dalam jangka panjang, mudah – mudahan umat Islam bisa membuat kalender baku, satu kalender yang menguatkan umat Islam dalam persatuan tanpa harus bicara apakah harus ru’yah atau hisab yang benar. Semuanya benar, hanya saja metode ru’yah adalah metode jaman nabi dimana saat itu belum ada teknologi yang cukup membantu, sementara hisab adalah metode mutakhir dalam penentuan waktu dan setiap kejadian yang menyangkut hari, siang, malam, bulan dan tahun yang berhubungan dengan ibadah umat Islam.
Posted by: opinisaya on: 30 November 2010
Bupati Mojokerto yang baru, Mustofa Kamal Pasha (MKP) berencana untuk menghapus aturan parkir berlangganan. Usulan ini sebelumnya dilontarkan oleh kalangan DPRD kabupaten Mojokerto tetapi belum ada realisasi.
Baru setelah Bupati MKP resmi dilantik, mulai ada titik terang realisasi rencana ini. Alasan mendasar yang dijadikan rujukan adalah bahwa adanya banyak keluhan dari masyarakat tentang pembayaran ganda retribusi parkir. Masyarakat sudah membayar di kantor samsat bersama pengurusan pajak kendaraan bermotor, tetapi tetap saja masih membayar ketika berada di lokasi parkir.
Saya pribadi sebagai warga Mojokerto sangat merasakan hal ini. Ketika di lokasi Parkir, maksud saya tidak membayar lagi ke juru parkir, tetapi si juru parkir selalu mendekat ketika saya akan keluar dari lokasi parkir. Karena si juru parkir mendekat, tetu maksudnya adalah untuk meminta uang parkir secara halus. Mau tidak mau, saya harus memberi.
Sebenarnya tidak salah jika saya tidak memberi, tetapi sebagai orang jawa tentu tidak mau ribut hanya karena uang recehan atau masalah sepele, sehingga memberi uang jauh lebih bak dan aman walaupun dengan menggerutu di dalam hati.
Oleh karena itu, rencana bupati MKP untuk menghapus retribusi parkir sangat saya dukung. Karena justru masyarakat yang dirugikan dengan pembayaran ganda. Ada beberapa kalangan yang menolak, bahkan pemda kota juga menolak. Karena hilangnya potensi pendapatan daerah. Paradigma kalangan yang menolak seperti ini adalah paradigma yang harus dihapus jauh – jauh dari pikiran para pejabat kita. Pejabat yang menolak lebih mementingkan PAD dari pada kesejahteraan rakyatnya. Ini adalah pejabat yang bermental rusak, sama sekali tidak pro rakyat.
Sekali lagi saya sangat setuju dengan keputusan bupati MKP, ini adalah contoh bupati yang peka terhadap keluhan masyarakat.
Kembalikan lagi pola penanganan parkir ke model konvensional, toh dengan pola konvensional potensi PAD tidak hilang. Hanya saja, sudah menjadi rahasia umum, bahwa parkir konvensional banyak kebocoran di sana sini, mungkin yang masuk PAD hanya sekitar 20-30% saja, lainnya masuk ke kantong juru parkir, koordinator parkir, para pejabat yang mengurusi parkir dan lain – lain.
Masalah ini yang harus dipecahkan. Ini adalah masalah mental dan moral pejabat kita. Jika moral pejabat kita masih rusak, aturan parkir macam apapun tetap saja akan selalu bermasalah. Bukan masalah aturannya yang harus direvisi, tetapi pelaksananya yang bermental korup.
Bukan hanya masalah retribusi parkir yang perlu perhatian, retribusi pelayanan pasarpun juga tidak beda jauh. terlalu banyak kebocoran di sana sini. Tentang retribusi pasar ini, ada baiknya dibahas dalam posting berikutnya.
Posted by: opinisaya on: 18 November 2010
Berikut ini list jadwal PSMP dalam mengarungi divisi utama 2010/2011:
19-11-10 PSMP Vs PSIR
22-11-10 PSMP Vs PERSIKU
26-11-10 PERSIBA Vs PSMP
29-11-10 PSS Vs PSMP
06-12-11 BARITO PUTRA Vs PSMP
03-01-11 PSMP Vs PERSERU
07-01-11 PSMP Vs PERSIDAFON
12-01-11 PSMP Vs PERSIPRO
20-01-11 PERSEBAYA Vs PSMP
24-01-11 PERSIGO Vs PSMP
01-02-11 PSMP Vs PSBI
05-02-11 PSMP Vs PERSEKAM METRO FC
Bagi yang ingin nonton, sesuaikan jadwal anda dengan jadwal di atas. Pesan saya jangan bikin kerusuhan.
Posted by: opinisaya on: 16 November 2010
Kabar dari Vivanews
Recording Industry Association of America (RIAA), organisasi yang gencar menghadang pembajakan di industri rekaman, baik musik ataupun video rugi besar.
Dari data pajak IRS yang terungkap, sepanjang 2006 sampai 2008, RIAA telah menghabiskan US$64 juta dan hanya mendapat US$1,4 juta.
Nah lo? apa dibilang? justru akan membuat rugi jika melawan pembajakan. Karena pembajakan adalah bagian dari industri itu sendiri.
Jika tidak ada pembajakan, lagu – lagu atau musik tidak populer karena hanya kalangan tertentu saja yang bisa menyimaknya. Begitu juga dengan software, Windows atau office punya Microsoft, dan software – software lain, tidak akan sedemikian populer jika tidak dibajak.
Kalau benar – benar mau dan serius memerangi pembajakan, gampang koq. Tutup saja pabrik CD DVD copier, CD DVD blank tidak boleh dijual bebas. Orang akan susah untuk membajak.
Sekarang ini, membajak semudah belinya koq. Cukup modal 2 ribu perak atau 5 ribu perak sudah dapat copy asli dari lagu/musik atau software asli tersebut. Terus mau apa?
Posted by: opinisaya on: 11 November 2010
Penggagas Liga Primer Indonesia (LPI) sukses menyelenggarakan laga amal (Charity Match) yang diberi judul “Untuk Indonesiaku” sore tadi (Rabu, 10 November 2010). Pertandingan yang mempertemukan antara Surabaya FC dengan Indo Holland FC berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan tim yang diperkuat oleh para pemain asal Belanda yang mayoritas masih memiliki garis keturunan dari Indonesia.
Akan tetapi PSSI melihat kesuksesan pertandingan ini dari sudut yang lain. Melalui Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Nugraha Besoes, PSSI dinyatakan telah mengirimkan surat kepada Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), serta FIFA, terkait dengan keberadaan perangkat pertandingan asal Mesir di laga yang tidak memiliki izin dari PSSI tersebut. Bahkan dalam situs resmi PSSI, Nugraha Besoes juga mencela mantan anggota AFC dan Federasi Sepakbola Malaysia, M. Subramaniam, yang ikut ambil bagian menjadi perangkat pertandingan dalam laga amal ini.
Entah lupa atau memang ingin terus meneror LPI, apa yang dilakukan PSSI ini sebenarnya tidak tepat. Pertandingan ini adalah laga amal yang bukan merupakan pertandingan resmi FIFA, AFC maupun PSSI, semua yang berperan serta atas nama pribadi. Jadi kalau PSSI berpedoman pada aturan FIFA hal ini sebenarnya salah sasaran karena pertandingan ini tidak berafiliasi kepada Asosiasi atau Organisasi sepakbola manapun.
Apa yang dilakukan PSSI bukanlah sebuah sikap bijaksana menyikapi sebuah laga amal, dan malah akan semakin menyudutkan posisi PSSI di mata masyarakat. Kemana sebenarnya arah tujuan PSSI, membangun sepakbola Indonesia atau hanya sekedar ingin mempertahankan kekuasaan semata? Hanya pengurus PSSI yang bisa menjawabnya.
Yang jelas, dengan suksesnya laga amal ini, menunjukkan bahwa LPI sudah siap menggelar kompetisi reguler, walaupun belum bisa dikatakan siap 100%. Dengan atau tanpa PSSI, nampaknya LPI sudah siap dengan segalanya, termasuk resikonya.
Saya pribadi sangat mendukung LPI, karena ini adalah revolusi bagi sebuah institusi bobrok macam PSSI. Harus ada orang yang berani melawan PSSI yang dimotori oleh seorang narapidana semacam Nurdin Selet. Salut untuk Arifin Panigoro dan Ketua Persebaya Saleh Ismail Mukadar.
Dari laga ini juga merupakan sinyal buruk untuk Nurdin Selet dan kroni – kroninya. Kalau PSSI main ancam mengancam terhadap setiap laga sepak bola di Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah yang bisa mengurus bola cuma PSSI? apakah hanya PSSI yang boleh menyelenggarakan permainanan sepak bola? apakah hanya PSSI yang berhak dan memiliki permainan sepak bola di Indonesia? Jelas jawabannya : TIDAK ! TIDAK ! dan TIDAK !!!!
Semua orang boleh mengurusi sepak bola, semua orang boleh bicara bola, semua orang boleh membuat turnamen atau kompetisi sepak bola, toh itu semua memakai uang mereka sendiri, bukan uang PSSI. Buat apa PSSI ribut? Justru meributkan hal ini membuat PSSI nampak hanyalah seperti paranoid yang takut dengan sesuatu yang mestinya tidak perlu ditakuti.
PSSI perlu direformasi, Revolusi harus terjadi di PSSI. Dan sinyal tersebut sudah nampak di depan mata. Untuk si Nurdin Selet, mulai saat ini berpikirlah untuk mengundurkan diri sebelum di-mundur-kan oleh sistem yang terbukti lebih baik.
Bravo LPI, mari dukung bersama – sama. Bubarkan PSSI-nya Nurdin Selet.
Komentar Terakhir